Pages

Tuesday, December 18, 2012

It's a knives thing

First thing first, gue mau ngebahas soal pisau dulu sebelum lanjut ke materi survival yang berikutnya. Why ? Because knife is an essential tool for survival.
With it, you can chop woods for shelter and fire, you can use it as a first aid tool, prepare your meal, and of course, self defense.

Nah, berikutnya kita bahas soal anatomi dan desain pisau yang ideal untuk survival.


Kurang lebih inilah basic anatomy yang biasa kalian temukan di beberapa pisau.
I really wanted to explain all of those parts, but well, I don't really want to waste my time typing something that you can find easily in wiki or google. So help yourself, and google it if you really want to know.

Terkadang orang memilih pisau yang desainnya "keren" menurut mereka tapi melupakan sisi fungsional sebenarnya dari pisau tersebut. Kebanyakan orang yang baru pertama kali mengenal pisau, mungkin memilih pisau survival model Rambo untuk menemani kegiatan ruang terbuka mereka.

Pisau model ini biasanya menggunakan hollow handle, dimana gagangnya memiliki ruang didalamnya yang bisa di isi survival kit, seperti korek, benang pancing dan semacamnya. It is indeed usefull, but on the other hand, bilah atau blade dari pisau itu cuma disambung di gagang, tapi tidak utuh sampai ke ujung handle.
Titik sambungan ini merupakan stress point dari pisau tersebut, kalau dipakai terlalu keras untuk chopping atau bacok kayu, kemungkinan besar akan patah, and congratulation, you just lost your cutting tool.

Tetapi dalam hal ini, ada pengecualian. Desain One-piece hollow handle milik Chris Reeve yang dibuat dari satu baja utuh, tentunya jauh lebih kuat daripada bilah yang disambung di gagang.
Tapi sayangnya hampir tidak semua pisau hollow handle dibuat dengan cara seperti itu.

If you want to survive in the wild, at least you need a knife that you can depend in such situation.
For example, untuk "main" di hutan gw suka membawa pisau yang tebal spine'nya di atas 2,5mm sampai 4mm, dengan panjang bilah sekitar 6-7 inch.
Karena gue mau punya pisau yang cukup tebal dan kuat saat melakukan batoning dan chopping, tapi tidak terlalu oversize sehingga masih nyaman dibawa.

Itu menurut pendapat dan kenyamanan gue lho, kalau kalian punya pendapat lain ya silakan di comment :)

Paling engga, apapun jenis pisau yang kalian suka. Ada beberapa hal yang harus dipikirkan baik baik.

1. Full Tang
Tang disini bukan alat penjepit itu, tapi bagian dari pisau yang memanjang sampai ke handle atau gagang.
Karena gak sedikit desain pisau yang blade hanya disambung digagang dengan menggunakan semacam pin.
Pilih desain yang tang sampai ke bagian gagang, biasanya terlihat pada gagang yang model sandwich.
Tapi beberapa pisau seperti Mora, bukan berarti tidak full tang. Mora menggunakan desain rat-tail dengan hidden tang.

2. Bahan pisau
Biasanya ada 2 jenis bahan yang dikenal orang pada umumnya, stainless dan karbon.
Stainless biasanya dianggap sebagai baja yang kuat, karena anti karat. Padahal stainless tidak anti karat, melainkan lebih tahan terhadap karat dan korosi, jika dibiarkan tanpa perawatan juga akan tetap berkarat.
Baja karbon justru sebaliknya, lebih rentan terhadap karat tetapi memiliki ketahanan yang lebih bagus.
As for me, I prefer Carbon over Stainless. Baja karbon lebih mudah di asah dan tidak cepat tumpul pada pemakaian normal, bahkan pada pemakaian yang berlebih pun masih kuat.
Tetapi Stainless jauh lebih cepat tumpul, dan jika bilahnya terlalu tipis maka akan mudah patah.

3.Desain edge atau sisi tajam
Ada 2 istilah yang sering dipakai, plain edge dan serrated edge.
Plain edge merupakan model yang standar, sedangkan serrated edge memiliki semacam gerigi yang bertujuan agar lebih mudah saat memotong tali.


Gambar diatas ini sekedar contoh, desain Spyderco Tenacious yang Half-serrated.
Serrated edge ini lebih sulit di asah karena butuh asahan khusus, oleh karena itu sebaiknya untuk pisau besar, hindari model serrated edge, dan simpanlah pocket knife atau pisau lipat seperti ini sebagai backup.

4. Panjang bilah
Biasanya panjangnya sekitar 6-12 Inch. Kalau kurang dari itu mungkin akan sulit untuk memotong kayu, karena dalam kondisi darurat, belum tentu kalian bawa sempat membawa kapak atau gergaji kan ?
Usahakan jangan lebih dari 12 inch untuk bilah pisau, kecuali itu adalah golok tebas atau parang.
Karena kalau bilah lebih dari 12 inch, bakal sulit digunakan dan dibawa.

5. Ketebalan spine
Untuk hal ini, usahakan cari pisau dengan ketebalan sekitar 3mm - 5mm
Dengan ketebalan segitu, pisau bakal cukup solid dan kuat untuk dipakai pekerjaan memotong yang berat.
karena kalau terlalu tipis, kemungkinan patah juga lumayan tinggi.

Kalau untuk sheath atau sarung pisau, mungkin lebih ke pilihan tiap individu.
Tapi paling engga, pilihlah desain sarung yang sebaik mungkin, karena akan mempengaruhi cara membawa pisau tersebut nantinya.
Kalau inget nanti gue bakal bahas lebih lagi soal sheath ini.
See ya






Cara Mendapatkan Air saat Survival atau Hiking

As you know, water is the most important thing for human body.
Masalah utama yang sering dihadapi adalah, terlalu banyak air, dan tidak ada air.
Saat banjir air berlimpah, namun tercemar oleh kotoran dan sampah pembuangan lainnya, sehingga sumber air bersih yang dapat diminum pun menipis.
Dan saat berada di daerah yang kering tanpa air, mendapatkan air bukanlah hal yang mudah juga.
Jadi, penting untuk tahu bagaimana cara mendapatkan air agar dapat terus bertahan hidup.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan air, metode yang digunakan juga tergantung perlengkapan apa saja yang kita punya dan sumber daya apa saja yang ada di sekitar kita.

Yang pertama adalah dengan penguapan, selama kita punya cahaya dan panas matahari yang cukup, ditambah dengan plastik dan tempat untuk menampung air, maka metode ini dapat dilakukan.
Kurang lebih seperti itulah gambarannya, jadi kita meletakkan tempat untuk menampung air atau water container sperti gelas, kaleng, botol, atau apapun yang bisa digunakan di tanah yang sudah digali. Kemudian letakan plastik diatas lubang tersebut, dan taruh satu batu kecil sebagai pemberat agar membentuk kerucut ke arah tempat air yang kita taruh dibawah tadi.
Panas matahari akan membuat tanah yang lembab setelah digali menjadi menguap, menempel pada plastik, kemudian butiran air tersebut akan mengalir ketengah kemudian menetes kedalam tempat air.
Kita juga dapat menggunakan metode ini untung menyuling air laut menjadi air tawar.

Untuk menambah jumlah air dari penguapan, bisa ditambahkan dedaunan hijau yang masih segar di dalam lubang tersebut, karena kandungan air dari daun tersebut juga akan menguap. Air yang dihasilkan dari metode ini juga merupakan 100% air murni, sehingga tidak perlu melalui proses perebusan air lagi.

Kelemahan dari metode ini, jumlah air yang didapat tidak banyak, dan butuh waktu lama. Jadi kalau jumlah kalian lebih dari 2 orang, tentunya akan sangat sulit, terutama jika tidak ada lagi yang bisa dipakai untuk membuat metode ini.

Berikutnya dengan memanfaatkan proses transpirasi tanaman. Mungkin dipelajaran IPA dulu pernah belajar soal bagaimana proses fotosintesis kan ? We'll take advantage of that proses.
Kita tau kalau tanaman menggunakan CO2 dan mengubahnya menjadi komponen organik menggunakan cahaya matahari, proses ini menggunakan CO2 dan Air, kemudian memberikan kita oksigen sebagai hasilnya. Dalam proses fotosintesis, daun membuka pori-porinya untuk CO2 dan transpirasi terjadi ketika air menguap melalui daun tersebut. Singkatnya, proses ini mengambil air dari tanah dan diangkut oleh tanaman untuk mendapat nutrisi dan tetap segar. 

Sederhananya, kita cukup membungkus sekumpulan daun dari tanaman yang terekspos oleh matahari dengan plastik, dan membiarkan air menguap dan terkumpul di plastik tersebut. Kurang lebih sama dengan metode sebelumnya.



The last one in this post is water filtration system.
Dengan filter sederhana, anda bisa membuat air kotor menjadi lebih aman diminum, namun sebaiknya tetap melalui proses perebusan, just to make sure.
Jika kalian tidak memiliki botol atau plastik untuk diubah untuk menjadi filter, gunakan tripod dari batang kayu ditambah dengan kain.


Disitu terlihat ada 3 lapis kain, dan disitu pula terjadi 3 tahapan filtrasi atau penyaringan air.
Lapisan pertama yang paling atas, dapat di isi dengan ilalang atau rumput, gunanya untuk menyaring kotoran yang ukurannya cukup besar.
Lapisan kedua, di isi dengan pasir untuk menyaring kotoran atau mikroba yang ukurannya jauh lebih kecil.
Lapisan ketiga, di isi dengan arang yang berfungsi untuk menghasilkan Potasium Hydroxide atau Kalium Hidroksida dengan nama yang lebih dikenal dengan Kalium Permanganat di Indonesia. Kalium Permanganat atau KMNO4 ini sendiri dapat dibeli di Toko Kimia, tapi kita menggunakan arang sebagai substitut.
Arang dapat dengan mudah didapat melalui api unggun yang kita buat.

Dengan melakukan proses ini beberapa kali, maka kemungkinan air yang ditampung sudah dapat dikonsumsi tanpa harus dimasak.

Those are the most simple ways to get water in dire situation, nanti di update lagi soal pengolahan air menggunakan zat kimia. Man, I love chemistry X3

See ya

Jenis-Jenis Shelter

Setelah di post sebelumnya gue udah ngebahas soal Basic Survival, sekarang kita kupas soal "Shelter".
Negara ini termasuk negara tropis, cuacanya lebih sering panas dan hujan, makanya ada beberapa tempat yang lembab banget.
Like a said before, the type of the shelter depends on the situation and the location you were in.
Tetapi sebisa mungkin, hematlah waktu dan tenaga dengan mencari shelter alami, seperti gua, pohon tumbang, ataupun 
Disini kita bakal bahas soal beberapa tipe shelter.

1. Lean-to
Sesuai namanya, yaitu "Lean-to", jadi kita tinggal masuk ke dalam shelter itu dengan api di depan shelter sebagai penghangat. Ini adalah salah satu shelter yang paling mudah dibuat dengan peralatan seadanya.
Kalian bisa pakai batang pohon dan dedaunan sebagai atap seperti digambar, atau menggunakan tali dan terpal sebagai alternatif.
Jas hujan model Poncho juga bisa digunakan untuk membuat shelter seperti ini, tentunya lebih mudah jika membawa tali.
Tetapi dalam pembuatan shelter seperti ini, sangat penting untuk mengetahui arah angin, karena kalian gak akan mau tidur di shelter yang terkena angin dingin dimalam hari dan kemasukan hujan juga.

Kekurangan dari shelter ini adalah saat hujan deras resiko air hujan masuk sangat tinggi, dan perlindungannya hanya dari satu arah, tapi kalian bisa menambah penutup dibagian samping agar lebih hangat.
Kelebihannya adalah bisa mendapat kehangatan langsung dari api unggun jika ada, dan sangat sederhana saat dibuat dan tidak memakan banyak waktu.

2. Double Lean-to shelter
Versi lain dari Lean-to shelter, bentuknya seperti tenda sehingga dapat lebih terlindung dari hujan dan angin.
Cara pembuatannya pun hampir sama, dan dapat dilihat pada gambar. Dengan satu batang panjang sebagai pondasi utama, lau ditambah dengan batang yang lebih kecil dari bagian belakang dan makin memanjang mengikuti ketinggian kayu pondasinya, kemudian ditutupi ranting sebagai penahan daun yang akan digunakan sebagai atap.
Salah satu shelter yang cocok saat di daerah yang cukup terbuka sehingga dapat melindungi kita dari terpaan angin dimalam hari.
Selain menggunakan daun kering atau daun hijau yang lebar sebagai atap, kita dapat menggunakan plastik atau terpal sebagai atapnya.

Kekurangan dari shelter ini adalah hanya cukup untuk 1 orang,kecuali jika anda membuat versi yang lebih besar lagi atau disebut juga A-Frame.
Kelebihan, cukup hangat dan dapat dibuat dengan apa saja yang ada disekitar, jika anda tidak memiliki waktu dan bahan untuk membuat api unggun, tipe shelter ini dapat dipertimbangkan.


Sementara segini dulu, nanti gue update lagi.
Ada rencana bikin video "How to" sekalian foto-foto hasil sendiri from my next trip.
Once again, stay tune ;)





Monday, December 10, 2012

Dasar-dasar Survival AKA The Basic

Setelah di postingan sebelumnya kita membahas soal apa itu Survival, disini gue bakal coba untuk membahas dasar-dasar apa saja yang bisa membantu kita buat bertahan hidup di situasi tersebut.
Hal yang paling dasar itu yang harus diketahui adalah Rules of 3s.
Yaitu :
  • 3 menit tanpa udara
  • 3 hari tanpa air
  • 3 minggu tanpa makanan

Lebih dari itu, kemungkinan untuk mati sangat besar.

Then,let's cut to the basic foundation.

1. Shelter / Bivak / Tempat berlindung
Kebanyakan orang meninggal terkena hypothermia, karena kontak langsung dengan udara dingin ataupun hujan, yang seharusnya dapat dengan mudah dihindari dengan membuat tempat berlindung.
Sangat penting untuk mencegah suhu tubuh turun atau naik terlalu jauh. 
Banyak sekali Shelter yang dapat dibangun di situasi seperti ini, tapi hal seperti jenis lokasi, kondisi cuaca dan jumlah orang yang menempatinya juga bakal mempengaruhi jenis shelter yang nantinya akan digunakan.

2. Air
70% persen tubuh manusia terbentuk dari air, makanya wajar kalau manusia bisa hidup 3 minggu tanpa makanan, tapi hanya 3 hari tanpa air. Jadi harus tahu bagaimana cara untuk mendapatkan air kalau gak mau mati karena dehidrasi. 
Jangan pernah meminum air langsung dari sungai atau danau, terutama yang airnya stagnan atau menggenang begitu saja. Ada kemungkinan itu sudah diminum oleh binatang, atau kejatuhan kotoran hewan lainnya, dan pastinya mengandung parasit dan bakteri yang cukup berbahaya. Penyakit sederhana seperti diare dapat membunuh, terutama ketika kita gak punya persediaan makanan, air dan obat-obatan yang cukup.
Cara paling efektif untuk membunuh parasit dan bakteri ini adalah dengan merebus air, 
simple isn't it ? Such simple thing, could save your life.

3. Api
Meskipun tidak menjadi prioritas, tapi selalulah coba untuk membuat api unggun.
Karena hutan yang gelap di malam hari cukup menyeramkan terutama jika sendirian dan tanpa cahaya.
Api dapat berfungsi sebagai penghangat tubuh, untuk memasak makanan atau air, dan paling penting adalah sebagai dukungan secara mental, karena membuat anda merasa lebih aman dan nyaman.
Selalu bawa korek batang atau gas, dan bungkus dengan plastik yang rapat, you don't want your fire source to get wet, do ya ?
Kecuali kalau tahu beberapa teknik untuk menyalakan api lainnya selain menggunakan korek, we'll get to this later.

4. Makanan
Last important thing, food.
Cobalah untuk selalu bawa makanan, entah itu permen, coklat batangan, biskuit, atau semacamnya di kantong celana atau di tas yang akan kalian bawa bepergian.
Jika kalian punya jumlah yang cukup, mungkin kalian dapat bertahan selama seminggu tanpa perlu mencari makanan lainnya.
Karena mencari makanan di alam tidak semudah yang kalian lihat di TV, apalagi dengan peralatan yang tidak memadai.
Jangan pernah coba ambil resiko untuk memakan jamur atau buah kalau kalian gak tau jenis-jenisnya dan membedakan mana yang beracun mana yang tidak, nutrisi yang didapat gak sepadan dengan resiko mati keracunan.


As long as you know about this 4 things, and how to implement it, your chance of surviving is pretty much high, without considering an X Factor though.
Berikutnya bakal kita kupas masing-masing kategori lebih jauh lagi,
See ya ;)

Survival

Well, here comes my favorite thing :3
"Survival"

Dalam artian sempit, survival berarti bertahan hidup, dari apapun itu.
Let me tell you why you have to learn or at least know about this.

Gak sedikit orang yang hobi backpacking, traveling, atau mountaineering alias hiking.
Tapi gak banyak orang yang mengetahui kalau sebenarnya di setiap kegiatan apapun, terutama kegiatan outdoor yang melibatkan alam liar, pasti ada bahaya tersendiri.

Gak butuh hal yang rumit kok, salah belok saat mendaki gunung atau melalui jalur trekking di hutan, kapal yang rusak dan tenggelam saat bermain arung jeram, atau terjebak saat mengendarai mobil di tempat yang cukup terisolir, dapat merubah "liburan" kalian menjadi masalah hidup dan mati.

And you know what ? when such thing happen, what most people do is simple, panic.
Kebanyakan orang panik karena mereka gak tau dan gak akan pernah tau kalau bakal mengalami hal seperti itu, dan itulah yang menyebabkan kebanyakan orang yang tersesat di gunung atau hutan ditemukan dalam keadaan meninggal.

Saat mengalami hal seperti ini, seharusnya bisa menjaga pikiran tetap tenang. Duduk, kemudian amati situasi sekitar dan jangan panik. Setelah itu cek apa saja yang ada di sekitar kalian dan apa yang kalian bawa yang bisa dimanfaatkan.

Kalau anda punya hobi seperti yang disebutkan diatas, paling tidak mengetahui dasar survival itu hal yang wajib. Sedikit pengetahuan dan latihan praktik survival dapat mengubah kesempatan hidup anda menjadi lebih tinggi. Dan yang paling penting, jangan pernah tinggalkan keinginan untuk tetap hidup.

Adapt to your surrounding and your situation. If there're lack of tools, or material, then improvise. Use everything you can, anyway you can, to keep yourself alive.
Because when such thing happen to you, you are no longer protected by the law of society, the only rule is survival of the fittest.

Kalau kata Darwin, bukan spesies terkuat yang bakal bertahan hidup, ataupun spesies yang paling pintar. Tapi yang paling bisa beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

Well, this is all from me, consider this as a prologue :)
See you next time

"It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is the most adaptable to change." - Charles Darwin







Sunday, December 9, 2012

Just a reminder

Di blog ini mungkin isinya bakal campur aduk, karena banyak banget yang pengen gue tulis disini.
tapi tetap bakal berkaitan soal benda tajam, EDC, survival, and those kind of things.
So, no need to worry, and stay tune ;)

Thursday, December 6, 2012

Waspada bencana



Pernah gak sih kalian mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana yang mungkin akan terjadi ?
entah itu banjir, gempa bumi, tsunami, atau badai dan sejenisnya yang skalanya pun kita gak tahu ?
Atau paling engga apa kalian tahu apa yang harus dilakukan di situasi bencana tersebut ?

Mental "Waspada bencana" kayaknya udah agak sulit untuk ditemukan atau terlihat pada orang jaman sekarang. Yah wajar aja sih kalau udah banyak dimanjakan oleh teknologi, terutama di daerah kota besar yang jarang terkena bencana.
Padahal persiapan kecil itu bisa merubah situasi yang tadinya buruk menjadi sedikit lebih baik, paling engga udah cukup untuk bertahan hidup.

Untuk menghadapi situasi bencana alam, kita harus berpikir beberapa langkah kedepannya, juga pikirkan kemungkinan terburuknya.

Contoh aja, kalau banjir di daerah pemukiman di perkotaan, sebagian besar memilih untuk menaikkan barang miliknya ke tempat yang lebih tinggi dirumahnya dan bertahan di lantai 2 atau atap rumahnya.
Dengan persediaan makanan alakadarnya, dan juga dengan pikiran bahwa banjir akan surut dalam 1-2 hari.

Tapi, bagaimana kalau banjir gak surut dalam 2 hari ?
Pasti ada yang jawab "nanti pasti dijemput tim SAR"
Tapi, bagaimana kalau banjir terjadi di berbagai tempat dan mereka gak bisa datang dalam 2 hari karna ada yang lebih parah ?

Like I said before, always think about what may happen, what would happen in the worst case scenario.
Jangan pernah berharap untuk mendapat pertolongan dari orang lain, karena di saat darurat seperti itu, yang bisa diandalkan cuma diri sendiri.

Gue sendiri pernah ngalamin banjir beberapa kali, dan 1 atau 2 diantaranya mencapai ketinggian hampir 2 meter.
Back then, I bought a supply such as canned food, bottled water, and medical supply that would last at least for more than a week for 2-3 person, meskipun gue gak tau kalau banjirnya bakal naik sampai setinggi itu cma dalam hitungan jam.
Jadi intinya, jangan pernah menyepelekan kekuatan alam, When you underestimate what mother nature could do to you, then you are as good as dead.

oh, ada motto dari seorang Youtuber yang selalu gue ingat dan seharusnya kalian ingat juga, dia bilang
"If you're not always prepared, then you're never prepared" - Adam from Equip2Endure
yang artinya, Kalau anda tidak selalu siap, maka anda tidak akan pernah siap.

Well, see ya ;)

Mindset


Well,Gue mau coba bahas soal mindset,
tentunya tentang mindset kebanyakan orang pada jaman modern yang penuh dengan teknologi canggih ini.

First thing first, lemme ask you 
Kalo ada orang terlihat bawa pisau lipat atau mungkin multitool seperti swiss army knife, apa yang terlintas di pikiranmu ?
Kebanyakan orang yang baru pertama kali ngeliat gue bawa pisau lipat pasti bilang 
"Ih buat apaan bawa gituan ? buat brantem ya ?"

And my answer is always the same for every new person that ask me about that
"ini alat bantu kok, cuma sekedar cutting tool"

Yah, mindset orang pastinya kalo liat ada yang bawa pisau bakal beranggapan kalau itu digunakan sebagai senjata, entah buat berantem atau bunuh orang.
Padahal kalau mau bunuh orang, ga butuh yang namanya pisau lipat yang bagus, kalo orang punya niat buruk kayak gitu, apapun yang ada disekitarnya, mulai dari pensil sampai kursi bakal jadi senjata yang mematikan, dan tentunya ga membuat orang curiga pada awalnya.

Alasan gue bawa pisau lipat atau multitool cuma satu, gue mau selalu siap untuk semua kemungkinan yang bakal terjadi yang mungkin bakal membutuhkan alat bantu seperti itu.
In worst case scenario, a simple folding knife could be a lifesaver.

I often used mine to cut, entah itu sekedar motong kertas, buka paket, motong tali, ngupas buah, masak, ataupun kegiatan lapangan lainnya.
Pernah dipakai juga buat motong luka buat ngambil serpihan kayu yang masuk lumayan dalam, pisaunya diguyur disinfektan dlu pastinya.

Pada akhirnya orang yang udah terbiasa liat gue bawa pisau itu malah jadi sering minjem, dan terbukti itu sangat membantu waktu mengerjakan sesuatu yang butuh alat potong yang dapat bekerja dengan baik.

Let me remind you again, jangan pernah gunakan pisau sebagai alat untuk membela diri, unless you are ready for the consequences.
Gunakanlah pisau dengan bijak, sebagaimana alat itu dulu diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia.

Pengenalan

Ah, Hello, It's me again.
Welcome to another blog of mine.

Seperti biasa, dengan gaya tulisan dengan bahasa yang agak campur aduk, 
Saya/Gue mau sharing soal beberapa hal.
Yang jelas inti dari keseluruhannya itu adalah kesiapan dan tentunya menjelaskan sesuatu dari sudut pandang gue sendiri yang mungkin nantinya diharapkan dapat merubah mindset seseorang, terutama soal hal-hal yang akan dibahas disini.

So, this is the end of the intro
See ya to the next post ;)